IDEN
Artikel dan ulasan teknologi

KECERDASAN BUATAN

Klon Adobe Gratis Buatan AI, Benarkah Bisa Gantikan Photoshop?

Artcraft, klon Adobe gratis buatan AI, mengklaim bisa menggantikan Photoshop tanpa langganan. Ini fakta, batas, dan risiko hukumnya sebelum kamu mencoba.

Oleh 01 NOV 2026 8 menit baca
Ilustrasi editor foto generik dengan panel layer dan penyesuaian warna di layar komputer

Sebuah proyek open source bernama Artcraft sedang ramai dibicarakan karena berani menantang Adobe di kandangnya sendiri. Proyek ini menawarkan klon gratis untuk aplikasi Creative Cloud, dibuat dengan bantuan AI, tanpa langganan, dan dengan tampilan yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Kedengarannya seperti kabar baik buat kamu yang sudah lelah dengan biaya langganan, tapi versi yang beredar sekarang masih jauh dari kata pengganti penuh.

Ringkasan cepat:

  • Artcraft adalah tujuh klon aplikasi Adobe yang dibuat dengan Claude Opus 5.5 dan bahasa pemrograman Rust, lalu dirilis gratis sebagai open source pada awal Oktober 2026.
  • Klon Photoshop-nya, Photocraft, bisa dipakai untuk pekerjaan dasar seperti mengubah ukuran, masking, dan penyesuaian warna, tapi belum punya fitur AI dan belum bisa membuka file PSD asli.
  • Pengembangnya mengklaim tidak memakai satu baris pun kode Adobe, tapi risiko hukum soal merek, paten, dan ketentuan penggunaan Adobe masih belum terjawab.
  • Tren ini makin cepat karena ada alat lain bernama REA, yang membantu agen AI membongkar cara kerja sebuah aplikasi.

Apa itu Artcraft dan kenapa ramai dibicarakan

Artcraft digagas pengembang Brandon Thomas bersama timnya. Menurut laporan Engadget pada 1 November 2026, Thomas memutuskan membongkar cara kerja aplikasi Creative Cloud setelah berkali-kali merasa dirugikan biaya pembatalan langganan Adobe. Ia kemudian memakai Claude Opus 5.5 untuk membuat versi clean room dalam bahasa Rust, yakni versi yang ditulis ulang dari nol berdasarkan perilaku aplikasi yang diamati, bukan dengan menyalin kode sumber aslinya.

Tujuh aplikasi yang ditargetkan adalah Photoshop, Illustrator, Premiere, Lightroom, Acrobat Pro, After Effects, dan InDesign. Pasangannya masing-masing diberi nama Photocraft, VectorCraft, FilmCraft, LightCraft, EffectCraft, dan DesignCraft, plus satu aplikasi pengganti Acrobat Pro. TechSpot dan HotHardware yang meliput proyek ini pada awal Oktober 2026 menyebut daftar yang sama, dan HotHardware menambahkan bahwa aplikasi-aplikasi itu tersedia untuk macOS, Windows, dan Linux.

Kenapa proyek ini langsung menarik perhatian, padahal alternatif gratis sebenarnya sudah lama ada? GIMP bisa menggantikan Photoshop, Darktable bisa menggantikan Lightroom, dan DaVinci Resolve bisa menggantikan Premiere. Masalahnya, menurut Engadget, pindah ke aplikasi yang sama sekali berbeda itu berat: kamu harus belajar ulang tata letak, menu, dan kebiasaan yang sudah menahun. Artcraft menyerang tepat di titik itu. Janjinya sederhana: tampilannya dibuat semirip mungkin, jadi kamu bisa langsung pakai tanpa belajar dari nol, dan kamu memegang kode sumbernya sendiri.

Cara kerja klon ini dalam bahasa sederhana

Ilustrasi diagram aplikasi generik yang dibongkar menjadi blok kode lalu dibangun ulang sebagai aplikasi terbuka
Ilustrasi: diagram konsep membongkar dan membangun ulang aplikasi, bukan bukti proses nyata.

Bayangkan kamu disuruh membuat ulang sebuah resep tanpa pernah melihat resep aslinya. Kamu boleh mencicipi masakannya, mencatat rasanya, mengukur porsinya, lalu menulis resep versimu sendiri dari hasil pengamatan itu. Itulah gambaran clean room yang diklaim Artcraft. AI dipakai untuk mempercepat pekerjaan menulis ulang itu, dari memetakan menu sampai membangun fungsi-fungsi dasarnya dalam Rust.

Penting membedakan klaim dan bukti di sini. Klaim tim Artcraft adalah mereka tidak memakai kode Adobe sama sekali. Klaim itu belum diuji di pengadilan, dan Engadget mencatat bahwa ketentuan penggunaan Adobe secara eksplisit melarang reverse engineering untuk mengetahui cara kerja perangkat lunaknya. Jadi, meski kodenya ditulis ulang, kemiripan tampilan dan alur kerjanya tetap bisa memicu persoalan merek dagang dan paten. Sampai berita ini ditulis, sumber-sumber yang kami periksa belum melaporkan adanya gugatan Adobe terhadap Artcraft, jadi jangan menganggap persoalan hukum ini sudah selesai ke arah mana pun.

Apa yang sudah bisa, apa yang belum

Jurnalis Engadget yang mencoba Photocraft mengaku sempat skeptis, lalu terkejut karena aplikasi itu sudah cukup untuk kebutuhan dasarnya: mengubah ukuran gambar, masking, dan penyesuaian warna. Menu dan kontrolnya disebut hampir satu banding satu dengan Photoshop, sehingga ia bisa langsung bekerja tanpa kurva belajar yang curam.

Tapi daftar kekurangannya juga panjang dan tidak boleh ditutup-tutupi. Photocraft belum punya fitur AI dan fitur lanjutan lain, pengguna melaporkan bug serius seperti gambar yang terhapus dan layer yang tiba-tiba tergabung, dan stabilitasnya masih bermasalah. Yang paling fatal buat pengguna lama: aplikasi ini belum bisa membuka file PSD asli. Artinya, kalau pekerjaanmu bergantung pada file Photoshop yang bolak-balik dikirim ke klien atau rekan kerja, Photocraft belum bisa menggantikan Photoshop sekarang.

Janji Thomas untuk mencapai kesetaraan fitur 100 persen dalam sebulan juga patut dibaca sebagai target, bukan fakta. TechSpot mencatat Thomas kemudian melunakkan pernyataannya di Hacker News: mencapai 99 persen kesetaraan disebut akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan bertahun-tahun. Dua pernyataan itu tidak sama, dan versi yang lebih hati-hati itulah yang lebih masuk akal untuk proyek yang masih berstatus alpha.

REA, alat yang bikin tren ini makin cepat

Artcraft bukan satu-satunya kabar di tren ini. Aplikasi bernama REA, singkatan dari Reverse Engineer Anything, viral dalam beberapa pekan terakhir. Engadget mencatat REA meraih 87 ribu fork dan 346 ribu bintang di GitHub per 20 Oktober 2026. REA bekerja dengan menghubungkan agen AI ke perkakas analisis seperti Ghidra, Hopper, dan IDA, sehingga agen itu bisa memeriksa aplikasi tanpa kode sumbernya, menjelaskan cara kerja sebuah fitur, dan menunjukkan buktinya.

Perlu diluruskan satu hal: REA bukan mesin sulap yang mengubah aplikasi jadi kode sumber sempurna dalam sekali klik. Perkakas decompiler mengubah kode mesin menjadi semacam kode mentah yang sulit dibaca, lalu AI menebak dan menulis ulang maknanya menjadi kode yang lebih rapi. Hasilnya bisa sangat membantu untuk riset, pelestarian perangkat lunak, dan interoperabilitas, tapi tetap butuh manusia yang memeriksa, menguji, dan bertanggung jawab atas hasilnya. REA sendiri menegaskan peruntukannya untuk riset yang sah, dan pengguna tetap wajib memastikan mereka berhak memeriksa perangkat lunak yang dibongkar.

Karena itu, ada baiknya kamu bersikap sama kritisnya terhadap klaim AI seperti terhadap jawaban chatbot pada umumnya. Artikel UlasTekno tentang cara mengecek jawaban AI sebelum dipercaya masih relevan di sini: klaim yang terdengar meyakinkan tetap harus dicek ke sumber primer dan hasil pengujian nyata. Begitu juga dengan model AI open weight seperti yang dibahas di artikel Mistral Large 4, keterbukaan kode tidak otomatis berarti produknya sudah matang untuk semua orang.

Masalah hukum yang belum terjawab

Reaksi terhadap Artcraft terbelah dua. Sebagian pengguna merasa perusahaan langganan yang dinilai memberatkan akhirnya mendapat balasan yang setimpal. Sebagian lagi menilai proyek ini sebagai pembajakan yang dibungkus AI, dan meragukan kode yang dihasilkan AI bisa dirawat dalam jangka panjang.

Konteks kekesalan terhadap Adobe sendiri nyata. TechSpot mengingatkan bahwa pemerintah Amerika Serikat menggugat Adobe pada Juni 2024 atas tuduhan menyembunyikan biaya penghentian dini dan mempersulit pembatalan, lalu pada Maret 2026 Adobe menyepakati penyelesaian senilai 150 juta dolar AS, yang terdiri dari 75 juta dolar denda perdata dan 75 juta dolar layanan gratis untuk pelanggan, sambil tetap membantah kesalahan. Latar itu menjelaskan kenapa banyak orang menyambut Artcraft dengan antusias, tapi latar itu tidak otomatis membuat klon tersebut legal.

Buat kamu, risiko praktisnya ada dua. Pertama, proyek alpha bisa berubah, ditinggalkan, atau dipaksa berubah karena persoalan hukum. Kedua, mengandalkan aplikasi yang belum stabil untuk pekerjaan penting bisa merugikan kamu sendiri, apalagi kalau file kerjamu rusak atau tidak bisa dibuka di aplikasi lain. Karena itu, jangan jadikan Artcraft sebagai satu-satunya tempat menyimpan pekerjaanmu.

Jadi, layak dicoba atau ditunggu dulu?

Kalau kamu penasaran, silakan coba Photocraft untuk belajar atau pekerjaan ringan, di komputer cadangan, dan dengan salinan cadangan file yang aman. Jangan pakai untuk proyek klien yang tenggatnya ketat, jangan kirim file PSD yang hanya ada satu salinannya, dan jangan berharap fitur AI Photoshop langsung tersedia di sana. Buat pengguna berat yang bergantung pada plugin, kolaborasi file PSD, dan fitur AI, jawabannya masih jelas: tunggu dulu.

Yang paling menarik dari cerita ini mungkin bukan Artcraft itu sendiri, melainkan tekanannya terhadap model bisnis lama. Kalau satu tim kecil berbantuan AI bisa membuat tiruan yang cukup bagus untuk banyak pengguna, perusahaan besar mungkin harus memikirkan ulang harga, kemudahan berhenti berlangganan, dan apa sebenarnya yang membuat produk mereka layak dibayar. Tapi sampai klon-klon ini terbukti stabil, legal, dan bisa dirawat jangka panjang, statusnya tetap sama: eksperimen menarik, bukan pengganti Adobe.

Tanya jawab singkat

Apakah Artcraft benar-benar gratis? Ya, aplikasinya dirilis gratis sebagai open source tanpa langganan, menurut timnya. Thomas menyebut bisnis terpisah yang menjual token model AI gambar dan video akan membantu menutup biaya pengembangan.

Apakah Photocraft bisa membuka file PSD? Belum, menurut pengujian Engadget. Ini batasan besar buat pengguna Photoshop lama.

Apakah memakai Artcraft melanggar hukum? Belum ada jawaban pasti. Timnya mengklaim tidak memakai kode Adobe, tapi ketentuan Adobe melarang reverse engineering, dan risiko merek serta paten masih terbuka.

Apakah REA sama dengan Artcraft? Tidak. REA adalah perkakas terpisah yang membantu agen AI menganalisis aplikasi, sementara Artcraft adalah rangkaian klon aplikasi Adobe.

Sumber

  • Engadget, AI software clones are coming for big-name companies like Adobe, 1 November 2026, https://www.engadget.com/2302459/ai-software-clones-coming-for-big-name-companies-adobe/
  • TechSpot, Software is over: Developer uses AI to build free Adobe clones after frustration with cancellation fees, Oktober 2026, https://www.techspot.com/news/114136-software-over-developer-uses-ai-build-free-adobe.html
  • HotHardware, Dev Uses AI To Build Clones Of Photoshop And Entire Adobe Suite For Free, 8 Oktober 2026, https://hothardware.com/news/dev-uses-ai-to-build-clones-of-photoshop-and-entire-adobe-suite-for-free

Nara UlasTekno

Nara UlasTekno adalah editor di UlasTekno yang setiap hari mengikuti perkembangan gadget, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan smart home. Ia suka membedah teknologi yang rumit menjadi penjelasan yang gampang dipahami, dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di luar layar, ia gemar mencoba perangkat baru, merapikan setup smart home, dan mencatat trik-trik praktis yang benar-benar bisa dipakai pembaca.

Baca juga.

Ilustrasi kurir pengiriman makanan dan asisten AI di ponsel
Agen AI

Agen AI Cuma Pesan Ratusan Order DoorDash, Kok Bisa?

CEO DoorDash Tony Xu menyebut agen AI dari luar baru menghasilkan beberapa ratus pesanan sejauh ini, jauh di bawah 993 juta pesanan DoorDash pada kuartal III 2026. Angka itu gambaran awal, bukan vonis akhir buat belanja lewat agen AI.

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasTekno. Artikel dan ulasan teknologi