Artikel dan ulasan teknologi

ESP32

Tamagotchi AI Buatan Sendiri dari ESP32, Modalnya Cuma $50

Editor The Verge merakit sendiri pendamping AI ala Tamagotchi dari board ESP32 seharga $50, pakai Claude Code, sebelum Muse Charm Meta dijual. Ini yang berhasil, dan yang masih jadi masalah.

Oleh 01 NOV 2026 8 menit baca
Ilustrasi pendant layar sentuh bulat dengan wajah AI dan hewan virtual kecil di layarnya
Ilustrasi pendant layar sentuh bulat dengan wajah AI dan hewan virtual kecil di layarnya
Ilustrasi hasil generate: pendant pendamping AI ala Tamagotchi berbasis ESP32, bukan foto asli perangkat.

Meta belum menjual pendamping AI mungilnya, tapi seseorang sudah lebih dulu membuatnya di rumah. Modalnya bukan ribuan dolar, bukan laboratorium, dan bukan pengalaman coding bertahun-tahun. Modalnya adalah satu board ESP32 seharga 50 dolar AS, plus bantuan AI untuk menulis kode.

Kisah ini menarik bukan karena hasilnya sempurna, justru karena hasilnya jujur: awalnya mengecewakan, lalu pelan-pelan menjadi seru, dan tetap menyisakan banyak batasan. Buat kamu yang suka IoT, ESP32, dan AI agent, ini adalah contoh paling nyata tentang apa yang sudah bisa dilakukan maker rumahan pada 2026, dan apa yang belum.

Ringkasan cepat

  • Seorang editor senior The Verge merakit sendiri pendamping AI ala Tamagotchi sebelum produk resmi Meta dijual.
  • Board yang dipakai adalah Waveshare ESP32-S3 1.75C, layar sentuh bulat 1,75 inci, dengan total biaya rakitan 50 dolar AS.
  • Ia tidak mengaku punya pengalaman coding, dan memakai Claude Code untuk memprogram ulang perangkat itu.
  • Fitur yang akhirnya jalan antara lain banyak avatar, minigame merawat hewan virtual, riwayat percakapan, suara, kamera remote dari ponsel, jam saku, dan pemutar video.
  • Produk resmi Meta sendiri, pada saat artikel sumber ditulis, belum diumumkan harga, tanggal pasti, dan spesifikasi lengkapnya.

Apa itu Muse Charm dan apa itu Muse Gadget

Pertama, pisahkan dua hal yang gampang tertukar. Yang pertama adalah Muse Charm, produk pendamping AI portabel dari Meta yang direncanakan dijual pada musim liburan. Bentuknya kecil, bisa dibawa seperti Tamagotchi, dan menampilkan wajah AI yang lucu.

Yang kedua adalah Muse Gadget, istilah untuk perangkat yang memakai kode open source dan token dari Meta untuk terhubung langsung ke cloud AI Muse. Board Waveshare yang dipakai dalam eksperimen ini disebut sebagai salah satu opsi awal yang disarankan Meta untuk membangun Muse Gadget sendiri. Jadi perangkat yang dibuat editor itu bukan produk resmi Meta, melainkan perangkat eksperimen berbasis kit pengembangan.

Perbedaan ini penting. Jangan menyamakan hasil rakitan rumahan dengan produk konsumen yang sudah diuji, bergaransi, dan siap pakai untuk semua orang.

Bahan dan modalnya: ESP32 seharga 50 dolar AS

ESP32 adalah mikrokontroler murah yang populer di dunia maker karena sudah punya WiFi dan Bluetooth, hemat daya, dan gampang diprogram. Dalam kasus ini, board yang dipakai adalah Waveshare ESP32-S3 1.75C, yaitu pendant layar sentuh bulat yang bentuknya mirip jam saku logam.

Angka 50 dolar AS itu adalah biaya rakitan si penulis, bukan harga resmi Muse Charm. Jangan mengonversinya menjadi harga resmi di Indonesia, karena ongkos kirim, pajak, ketersediaan, dan versi board bisa berbeda. Yang bisa kita simpulkan adalah ambang masuknya rendah: perangkat kerasnya terjangkau, dan hambatan terbesarnya bukan lagi harga board, melainkan waktu, ketelitian, dan pemahaman soal keamanan.

Cara bikinnya, versi sederhana

Alurnya, dalam bahasa sederhana, seperti ini. Pertama, board dicolokkan ke PC. Kedua, Claude diarahkan ke repositori GitHub Meta untuk memakai kode dan token Muse Gadget. Ketiga, perangkat dipasangkan dengan aplikasi Muse di ponsel. Keempat, lewat beberapa sesi Claude Code berikutnya, perangkat itu diprogram ulang sedikit demi sedikit sampai punya fitur yang diinginkan.

Istilah yang dipakai untuk cara kerja seperti ini adalah vibe coding, yaitu menulis program dengan cara menjelaskan keinginan dalam bahasa sehari-hari ke AI, lalu AI yang menyusun kodenya. Ini terasa ajaib buat pemula, tapi juga punya risiko yang akan kita bahas di bawah: kamu bisa mendapat kode yang jalan, tanpa benar-benar tahu apakah kode itu aman, rapi, atau punya cacat tersembunyi.

Untuk suara, eksperimen ini memakai suara AI berbahasa Inggris dari paket gratis ElevenLabs. Untuk konektivitas, perangkat memakai Bluetooth dan kamera ponsel, dan sebagai langkah hati-hati perangkat itu ditaruh di jaringan WiFi tamu, bukan jaringan utama rumah.

Fitur yang akhirnya berhasil ditambahkan

Bagian paling seru dari eksperimen ini adalah daftar fitur yang berhasil ditambahkan lewat iterasi, bukan lewat satu kali jadi.

Pertama, avatar. Versi awal hanya punya satu avatar bawaan yang terasa diam saja. Setelah diprogram ulang, perangkat bisa menampilkan banyak avatar yang terinspirasi dari yang ditampilkan di Meta Connect.

Kedua, minigame ala Tamagotchi. Hewan virtual di dalamnya punya kebutuhan makan, bermain, tidur, dan mandi, dengan empat level lapar, bosan, dan kotor. Memberi camilan bisa membuat berantakan dan makin kotor, dan terlalu banyak bermain bisa membuat hewan itu lelah. Ini detail kecil, tapi justru detail seperti inilah yang membuat perangkat terasa hidup.

Ketiga, riwayat percakapan. Dengan menggeser layar, pengguna bisa membaca jawaban lengkap Muse, bukan cuma potongan kata yang tampil sedikit demi sedikit.

Keempat, suara. Jawaban tidak lagi hanya tampil sebagai teks, tapi bisa dibacakan dengan suara AI.

Kelima, kamera remote. Tombol di pendant bisa membuat ponsel mengambil foto dari jarak jauh, dengan pratinjau langsung berkualitas tinggi. Ada juga pratinjau kualitas lebih rendah lewat Bluetooth, supaya tidak wajib memakai WiFi rumah. Kamera depan ponsel yang tadinya tampil terbalik juga diperbaiki lewat sesi coding berikutnya.

Keenam, jam saku. Perangkat bisa menampilkan jam analog dengan tiga jarum yang benar-benar menunjukkan waktu, dan fitur ini disebut selesai dalam waktu sekitar 15 menit lewat Claude.

Ketujuh, pemutar video. Perangkat diisi klip yang sudah dicari, diunduh, dan dipotong dari perkenalan Muse Charm, lalu bisa memutarnya di layar kecil itu.

Kedelapan, aturan audio yang sederhana tapi penting. Awalnya, tombol bicara yang dilepas terlalu cepat mengirim audio yang hampir kosong, sehingga AI kebingungan. Solusinya adalah hanya mengirim audio yang lebih panjang dari satu detik.

Apa yang awalnya mengecewakan

Jujur saja, versi awalnya tidak langsung mengesankan. Setelah instalasi, perangkat terasa tidak melakukan hal yang berguna. Ucapan pertama kali diperlakukan lebih seperti klip audio untuk ditranskrip, bukan perintah. Jawaban terasa lambat, tidak dibacakan, dan hanya tampil beberapa kata dalam satu waktu, tanpa tampilan pesan lengkap kecuali lewat aplikasi ponsel.

Avatar bawaan pun kebanyakan diam saja. Perangkat juga tidak otomatis menemukan perangkat smart home seperti yang biasa dilakukan speaker pintar. Aplikasi contoh streaming kamera dari ponsel awalnya tidak punya tombol shutter remote, sehingga kurang berguna untuk foto.

Bahkan setelah banyak perbaikan, lag masih muncul. Penulisnya mengaitkan sisa lag itu dengan server Meta yang kadang responsif dan kadang lambat. Ini pengingat penting: perangkat IoT seperti ini tidak berdiri sendiri, performanya ikut ditentukan oleh cloud di belakangnya.

Batasan, risiko, dan hal yang belum terkonfirmasi

Ini bagian yang wajib dibaca sebelum kamu ikut-ikutan. Pertama, perangkat rakitan ini tidak punya kamera sendiri dan tidak punya radio seluler 5G. Bentuknya juga besar untuk ukuran pendant, dan sempat hampir jatuh beberapa kali. Penulisnya sendiri menyimpulkan perangkat itu tidak punya fungsi Muse yang lebih banyak dari ponselnya, dan justru lebih sedikit tanpa kode tambahan yang ia buat.

Kedua, soal keamanan dan privasi. Penulisnya mengaku tidak mempercayai Meta atau Muse dengan email dan jaringan rumahnya, dan menyebut adanya laporan kebocoran alamat rumah seorang reviewer. Ia juga mengaku tidak tahu apakah kode hasil vibe coding-nya bagus atau punya cacat fatal. Ini bukan tuduhan baru, tapi pengingat praktis: jangan menghubungkan perangkat eksperimen ke akun penting dan jaringan utama tanpa isolasi seperti jaringan tamu, dan jangan menganggap kode yang jalan otomatis berarti kode yang aman.

Ketiga, kontrol smart home. Dalam artikel sumber, kemampuan mengendalikan smart home hanya disebut secara teoritis, bukan ditunjukkan bekerja. Jadi jangan menulis atau mengklaim seolah perangkat ini sudah bisa mengendalikan rumah pintarmu.

Keempat, produk resmi Meta. Harga, tanggal rilis pasti, spesifikasi lengkap, dan apakah produk resmi itu akan sebebas kit pengembang untuk diprogram ulang, semuanya belum terkonfirmasi dari halaman sumber itu. Penulisnya menutup dengan sikap menunggu: kita lihat saja saat produk itu benar-benar dikirim. Sikap yang sama sebaiknya kita pakai di artikel ini.

Untuk siapa proyek seperti ini cocok, dan untuk siapa belum

Cocok buat kamu yang suka bereksperimen dengan ESP32, sudah nyaman dengan flashing firmware, paham risiko jaringan, dan menganggap proses belajarnya sama serunya dengan hasilnya. Cocok juga buat yang ingin memahami cara kerja AI agent di perangkat fisik, bukan cuma di aplikasi chat.

Belum cocok buat kamu yang mencari produk jadi, stabil, bergaransi, dan aman dipakai anak tanpa pengawasan. Belum cocok juga buat yang ingin perangkat smart home utama, karena perangkat ini tidak dirancang sebagai hub smart home, tidak punya kamera sendiri, dan performanya masih bergantung pada server dan koneksi.

Kalau kamu pemula total, anggap proyek ini sebagai proyek belajar tingkat menengah, bukan proyek pertama. Mulailah dari board yang dokumentasinya jelas, ikuti panduan resmi Meta untuk Muse Gadget, dan pisahkan eksperimen dari akun dan jaringan pentingmu.

Putusan akhir

Eksperimen ini membuktikan satu hal besar: pada 2026, batas antara pengguna dan pembuat perangkat AI semakin tipis. Dengan board 50 dolar AS dan AI yang bisa menulis kode, seseorang tanpa latar coding bisa mengubah pendant layar sentuh menjadi pendamping AI yang bisa diajak bicara, dirawat seperti hewan virtual, dipakai memotret dari jauh, dan dipakai melihat jam.

Tapi bukti itu datang bersama catatan yang sama besarnya: hasil awalnya mengecewakan, performanya masih bergantung server, kodenya belum terverifikasi aman, dan produk resminya sendiri belum tentu sebebas kit ini. Jadi kagumi inovasinya, tapi jangan romantisasi prosesnya. Kalau kamu tertarik mencoba, coba dengan ekspektasi eksperimen, bukan ekspektasi produk jadi.

Tanya jawab singkat

Apakah ini produk resmi Meta? Tidak. Ini adalah eksperimen rakitan sendiri berbasis kit Muse Gadget, bukan Muse Charm versi konsumen.

Berapa harga Muse Charm? Belum terkonfirmasi dari sumber ini. Angka 50 dolar AS adalah biaya rakitan eksperimen, bukan harga resmi produk Meta.

Apakah perangkat ini bisa mengendalikan smart home? Belum terbukti dari sumber ini. Kemampuan itu hanya disebut secara teoritis, bukan ditunjukkan bekerja.

Apakah aman untuk pemula? Bisa dipelajari, tapi perlakukan sebagai proyek eksperimen. Gunakan jaringan tamu, jangan hubungkan akun penting, dan jangan anggap kode yang jalan otomatis aman.

Sumber

Ilustrasi utama artikel ini adalah ilustrasi hasil generate, bukan foto asli perangkat. Artikel ini adalah ringkasan dan analisis original berdasarkan fakta dari sumber di atas, bukan salinan teks sumber. Harga, tanggal, dan spesifikasi produk resmi Meta yang belum diumumkan tidak ditulis sebagai fakta di artikel ini.

Nara

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasTekno. Artikel dan ulasan teknologi