IDEN
Artikel dan ulasan teknologi

KECERDASAN BUATAN

Google Akui AI Mode Kurang Cuan, Iklan Jadi Jawabannya

Google mengakui AI Mode menghasilkan lebih sedikit uang daripada Search lama. Ini angka Q3 2026 Alphabet dan rencana iklannya, plus dampaknya di Indonesia.

Oleh 04 NOV 2026 7 menit baca
Gedung kantor pusat Google di Mountain View, California.

Google akhirnya mengakui masalah yang selama ini cuma jadi tebakan analis: makin banyak orang bertanya lewat AI Mode, makin tipis pula uang yang dihasilkan tiap pencarian itu. Bukan karena orang berhenti memakai Google. Justru sebaliknya, jumlah pencariannya tumbuh paling cepat dalam lima tahun terakhir.

Masalahnya ada di cara AI Mode menjawab. Di Search lama, kamu mengetik kata kunci, lalu melihat daftar tautan dan iklan. Di AI Mode, jawaban ditulis langsung oleh AI dalam satu balasan percakapan. Pengalaman itu terasa lebih praktis, tapi ruang untuk iklan jadi berbeda, dan Google sendiri bilang monetisasinya masih lebih rendah.

  • Pendapatan Alphabet kuartal III 2026 mencapai 127,6 miliar dolar AS, naik 25 persen dibanding tahun sebelumnya.
  • Pendapatan Google Search & other naik 12 persen menjadi 63,35 miliar dolar AS, melambat dari 17 persen pada kuartal II.
  • Pejabat bisnis Google, Philipp Schindler, mengakui pertumbuhan pesat kueri AI Mode menahan pendapatan karena monetisasinya lebih rendah daripada Search tradisional.
  • Google menjawabnya dengan memperluas iklan di dalam AI Overviews dan AI Mode, termasuk iklan multi-turn di Amerika Serikat.
  • Perluasan iklan AI Mode pada 28 Oktober 2026 belum mencakup Indonesia; Indonesia tercatat untuk iklan di dalam AI Overviews saja.

Apa yang berubah di laporan keuangan Alphabet

Alphabet mengumumkan hasil kuartal III 2026 pada 28 Oktober 2026, untuk kuartal yang berakhir 30 September 2026. Total pendapatan mencapai 127,577 miliar dolar AS, atau dibulatkan menjadi 127,6 miliar dolar AS, naik 25 persen dari 102,346 miliar dolar AS setahun sebelumnya. Ini adalah kuartal ke-13 berturut-turut dengan pertumbuhan pendapatan dua digit.

Di sisi lain, laba bersih untuk pemegang saham biasa turun 25 persen menjadi 26,17 miliar dolar AS, dan laba per saham dilusian turun dari 2,87 dolar AS menjadi 2,12 dolar AS. Angka laba itu ikut dipengaruhi kerugian atas efek ekuitas yang dilaporkan dalam rilis tersebut, jadi jangan dibaca seolah-olah bisnis inti Google tiba-tiba merugi.

Google Cloud justru menjadi bintang kuartal ini. Pendapatannya melonjak 103 persen menjadi 30,71 miliar dolar AS, didorong permintaan infrastruktur AI dan solusi AI. Sementara itu, pendapatan iklan YouTube naik 9 persen menjadi 11,21 miliar dolar AS.

Yang paling menarik ada di Search. Pendapatan Google Search & other naik 12 persen menjadi 63,35 miliar dolar AS, dari 56,57 miliar dolar AS setahun sebelumnya. Pertumbuhan kueri Search disebut CEO Sundar Pichai sebagai yang tercepat dalam lima tahun terakhir. Jadi persoalannya bukan permintaan yang lesu, melainkan nilai uang di balik tiap kueri yang berubah.

Kenapa AI Mode lebih susah dimonetisasi

AI Mode adalah mode percakapan di Google Search, tempat AI menulis jawaban, bukan sekadar menampilkan daftar hasil. Menurut Google, kueri di AI Mode rata-rata tiga kali lebih panjang daripada pencarian tradisional. Satu dari lima pencarian AI Mode secara global juga memakai suara, gambar, atau dokumen, bukan hanya teks.

Kueri yang lebih panjang itu sebenarnya sinyal niat yang lebih kaya. Pengguna bertanya lebih detail, lalu mengajukan pertanyaan lanjutan. Tapi dalam format jawaban AI, iklan tidak bisa ditempelkan dengan cara yang sama seperti di daftar hasil klasik. Google harus mencari format yang terasa membantu, bukan mengganggu jawaban.

Di panggilan laporan keuangan, Schindler mengakui pertumbuhan pesat kueri AI Mode berdampak karena monetisasi yang lebih rendah di sana. Pernyataan itu penting karena datang dari Google sendiri, bukan sekadar dugaan analis. Analisis The Verge yang memicu berita ini membingkainya dengan tajam, yakni Google belum menemukan cara membuat AI menghasilkan uang sebesar mesin pencarinya dulu, tapi itu tetaplah framing analisis, bukan kalimat resmi Alphabet.

Sebagai nuansa, Futurum Group mencatat kurs valuta asing sebagai pendorong terbesar perlambatan berurutan pendapatan Search. Artinya, kuartal ini belum membuktikan bahwa pergeseran ke AI saja yang menjelaskan seluruh selisihnya. Ada beberapa faktor yang berjalan bersamaan, dan Google tidak merinci berapa besar kontribusi masing-masing secara persis.

Google memperluas iklan di jawaban AI

Jawaban Google atas masalah ini cukup lugas: pasang lebih banyak iklan di tempat jawaban AI itu muncul. Google mengumumkan pada 28 Oktober 2026 bahwa iklan di AI Mode diperluas ke sepuluh negara di luar Amerika Serikat, yakni Australia, Kanada, India, Kenya, Malaysia, Selandia Baru, Nigeria, Pakistan, Filipina, dan Singapura. Brasil, Meksiko, dan Inggris direncanakan menyusul pada kuartal IV 2026, tanpa tanggal pasti.

Di Amerika Serikat, Google juga meluncurkan iklan multi-turn, yakni iklan yang bisa muncul dalam pertanyaan lanjutan di dalam satu percakapan AI Mode, bukan hanya pada pertanyaan pertama. Google menyatakan iklan di AI Mode akan diberi label jelas sebagai ‘Sponsored’, dan mengklaim riset internalnya menunjukkan pengguna nyaman dengan iklan tersebut serta menganggapnya relevan. Klaim kenyamanan itu adalah klaim Google dari datanya sendiri, dan belum bisa diuji secara independen dari luar.

Di saat yang sama, belanja modal Alphabet tetap besar. Belanja modal kuartal III mencapai 51,4 miliar dolar AS, dan panduan setahun penuh 2026 dipertahankan di kisaran 195 miliar sampai 205 miliar dolar AS, dengan belanja 2027 disebut akan naik signifikan. Arus kas bebas kuartal itu negatif 9,1 miliar dolar AS. Kombinasi ini menjelaskan kenapa monetisasi AI bukan sekadar soal gengsi produk: infrastruktur AI-nya mahal, dan hasilnya harus kelihatan di pendapatan, bukan hanya di jumlah pengguna.

Apa artinya buat pembaca di Indonesia

Buat pembaca di Indonesia, ada dua hal yang perlu dipisah. Pertama, AI Overviews, yakni ringkasan AI di atas hasil pencarian biasa, sudah menjadi bagian dari pengalaman Search sehari-hari. Kedua, iklan di dalam AI Mode adalah produk yang peluncurannya bertahap per negara.

Berdasarkan dokumentasi Google Ads Help yang dirangkum beberapa sumber, Indonesia tercatat untuk iklan di dalam AI Overviews saja, bukan AI Mode. Iklan di atas atau di bawah AI Overviews tersedia di lebih dari 200 negara dan wilayah tempat AI Overviews tersedia. Jadi kalau kamu di Indonesia melihat iklan di sekitar ringkasan AI, itu konsisten dengan skema tersebut, tapi jangan menyamakan dengan peluncuran iklan AI Mode yang baru diumumkan itu.

Implikasinya juga menyentuh situs dan kreator. Kalau makin banyak jawaban diselesaikan di dalam AI Mode tanpa klik ke situs sumber, trafik dari Search bisa berubah bentuknya. Artikel ini tidak mengklaim efek itu sudah terukur di Indonesia, karena Google tidak merilis angka trafik per negara untuk kasus ini. Tapi arahnya jelas: Google sedang menggeser pusat perhatian dari daftar tautan ke jawaban AI, lalu mencari cara agar jawaban itu tetap menghasilkan uang.

Buat pengguna biasa, perubahan paling terasa mungkin bukan di angka laporan keuangan, melainkan di tampilan Search itu sendiri. Jawaban AI makin sering muncul, iklan makin menyatu dengan jawaban, dan label ‘Sponsored’ menjadi penanda penting untuk membedakan mana rekomendasi organik dan mana yang dibayar. Kalau sebuah jawaban AI merekomendasikan produk, cek dulu apakah itu bagian dari iklan, dan bandingkan dengan sumber lain sebelum membeli. Prinsip yang sama berlaku untuk artikel tentang kapan sebaiknya AI dipakai untuk mencari di web dan kapan tidak, serta untuk kabar bahwa ChatGPT kini menangani seperlima pencarian Google menurut klaim OpenAI.

Yang masih belum terjawab

Pertama, apakah iklan di dalam AI Mode benar-benar menutup selisih monetisasi itu, atau hanya menguranginya. Google belum merilis angka monetisasi per kueri AI Mode dibanding Search tradisional, jadi tidak ada yang bisa menghitungnya dari luar.

Kedua, kapan iklan AI Mode sampai ke Indonesia, dan dalam bahasa apa. Daftar Google Ads Help yang dirangkum saat ini menyebut bahasa Inggris untuk pasar-pasar AI Mode yang sudah diluncurkan, dan Google sendiri mencatat daftar itu mungkin belum lengkap. Sampai ada pengumuman resmi untuk Indonesia, jangan anggap jadwal Brasil, Meksiko, dan Inggris berlaku juga di sini.

Ketiga, bagaimana nasib situs yang selama ini bergantung pada klik dari Search. Perdebatan soal sekolah yang menolak AI Google dan risiko kehilangan Google Search menunjukkan tarik-menarik yang sama: AI membuat jawaban lebih cepat, tapi juga mengubah siapa yang mendapat kunjungan.

Penutupnya sederhana. Google tidak sedang ditinggalkan pengguna, dan AI-nya tidak gagal menarik minat. Yang belum beres adalah persamaan bisnisnya: jawaban AI yang lebih nyaman ternyata, untuk sekarang, menghasilkan lebih sedikit uang per pencarian daripada Search lama. Sampai iklan di jawaban AI terbukti menutup selisih itu, setiap laporan keuangan Alphabet berikutnya akan dibaca dengan pertanyaan yang sama: apakah AI ini akhirnya bisa membayar dirinya sendiri?

Tanya jawab singkat

Apakah Google merugi karena AI Mode? Tidak. Alphabet masih membukukan pendapatan 127,6 miliar dolar AS dan laba operasi 40,6 miliar dolar AS pada kuartal III 2026; yang diakui Google adalah monetisasi AI Mode lebih rendah daripada Search tradisional.

Apakah iklan AI Mode sudah berlaku di Indonesia? Belum berdasarkan daftar peluncuran 28 Oktober 2026 dan dokumentasi Google Ads Help yang dirangkum; Indonesia tercatat untuk iklan di dalam AI Overviews saja.

Apakah angka 12 persen itu berarti Search Google melemah? Pendapatan Search tetap tumbuh 12 persen, tapi melambat dari 17 persen pada kuartal II, sementara pertumbuhan kuerinya justru disebut tercepat dalam lima tahun terakhir.

Nara UlasTekno

Nara UlasTekno adalah editor di UlasTekno yang setiap hari mengikuti perkembangan gadget, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan smart home. Ia suka membedah teknologi yang rumit menjadi penjelasan yang gampang dipahami, dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di luar layar, ia gemar mencoba perangkat baru, merapikan setup smart home, dan mencatat trik-trik praktis yang benar-benar bisa dipakai pembaca.

Baca juga.

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasTekno. Artikel dan ulasan teknologi