IDEN
Artikel dan ulasan teknologi

CLOUD DAN DATA

Gelembung AI China Pecah, Saham AI Kehilangan US$480 Miliar

Indeks STAR50 anjlok 40 persen dalam kurang dari empat bulan dan menghapus nilai pasar sekitar US$480 miliar. Ini bukan cerita teknologi yang mati, melainkan cerita valuasi yang kelewat panas.

Oleh 04 NOV 2026 7 menit baca
Ilustrasi grafik saham menurun di atas lorong pusat data

Sementara Amerika Serikat masih berdebat apakah gelembung AI benar-benar ada, pasar China sudah lebih dulu merasakannya. Indeks STAR50, indeks berisi 50 perusahaan AI, chip, dan robotika terkemuka di Bursa Shanghai, anjlok sekitar 40 persen dari puncaknya pada Juli 2026 dalam waktu kurang dari empat bulan, menghapus nilai pasar sekitar US$480 miliar. Indeks yang lebih luas, CSI300, turun sekitar 20 persen dari puncaknya pada Juni. Ini adalah koreksi pasar AI pertama yang sebesar ini, dan pelajarannya relevan jauh melampaui China.

Ringkasan cepat:

  • STAR50 anjlok sekitar 40 persen dari puncak Juli dalam kurang dari empat bulan; nilai pasar yang hilang sekitar US$480 miliar.
  • CSI300 turun sekitar 20 persen dari puncak Juni.
  • Saham AI mencapai 42 persen kapitalisasi pasar China dan 57 persen volume perdagangan (estimasi Goldman Sachs).
  • Tidak ada satu pemicu tunggal menurut Reuters: valuasi kelewat tinggi, keraguan soal permintaan AI, perang harga antar pembuat model, dan ancaman pembatasan ekspor.
  • Teknologi tidak berhenti: DeepSeek dilaporkan menggalang sekitar US$15 miliar, Huawei mendapat pinjaman bank domestik US$2,3 miliar.

Seberapa panas valuasi sebelum pecah

Angka yang paling menggambarkan panasnya pasar adalah kelipatan valuasi. Pada puncaknya, STAR50 diperdagangkan di kisaran hampir 250 kali laba historis (trailing earnings). Setelah koreksi 40 persen, indeks itu masih diperdagangkan di kisaran 100 kali laba, jauh di atas Nasdaq 100 yang berada di kisaran 30 kali. Dengan kata lain, bahkan setelah kejatuhan sebesar itu, saham AI China masih terhitung mahal menurut ukuran laba.

Contoh perusahaannya memperjelas. Produsen robot Unitree, yang penawaran saham perdananya kelebihan permintaan 8.000 kali dari investor ritel, kehilangan separuh nilainya sejak melantai pada Agustus. Produsen chip MetaX dan Moore Threads, yang masing-masing melonjak 700 persen dan 400 persen setelah listing tahun lalu, sama-sama turun sekitar 50 persen sejak Juli. Produsen memori CXMT turun lebih dari 25 persen hanya dalam sebulan terakhir. Produsen komponen optik Zhongji Innolight dan Eoptolink turun sekitar 60 persen dari puncak Juni-Juli, ketika Washington dikabarkan mempertimbangkan larangan memasok komponen optik ke pusat data AS.

Di sisi pembuat model, MiniMax dan Zhipu (Z.AI), dua perusahaan model China yang tercatat di bursa, bersama-sama kehilangan sekitar US$150 miliar dari puncaknya menurut Bloomberg. MiniMax bahkan sempat jatuh di bawah harga IPO-nya pada 22 Oktober, menghapus kenaikan 650 persen dari puncak Maret. Z.AI turun 81 persen dari puncak Juni. Menurut analisis 36Kr pada awal Oktober, Zhipu pernah dihargai sekitar 150 kali pendapatan tahunan, dan MiniMax sekitar 40 kali. Valuasi seperti itu tidak memberi ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.

Kenapa pecah, dan kenapa tidak ada satu pemicu

Reuters mencatat tidak ada pemicu penjualan tunggal yang jelas. Yang ada adalah tumpukan masalah yang datang bersamaan. Pertama, valuasi yang sudah kelewat tinggi: ketika harga sudah mencerminkan kesempurnaan, kabar buruk sekecil apa pun cukup untuk memicu jual massal. Kedua, keraguan soal permintaan nyata AI dan perang harga antar pembuat model yang menekan margin. Pratinjau open-weight DeepSeek V4 pada April bahkan sempat memangkas 9 persen saham Zhipu dan MiniMax dalam satu sesi, karena model gratis yang mumpuni membuat model berbayar terlihat makin sulit dibenarkan harganya. Ketiga, ancaman pembatasan ekspor dan wacana larangan memasok peralatan pusat data, yang mempersempit ruang gerak ekspansi perusahaan China. Keempat, Beijing sendiri ikut mendinginkan spekulasi: aturan margin diperketat hingga 100 persen dan dana-dana negara dilaporkan menjual di tengah reli. Ada juga faktor musiman seperti tagihan pajak yang disebut para trader.

Yang memperbesar guncangan adalah konsentrasi: menurut estimasi Goldman Sachs, saham AI mencapai 42 persen kapitalisasi pasar China dan 57 persen volume perdagangan gabungan saham A (daratan) dan H (Hong Kong). Ketika hampir separuh pasar adalah satu tema yang sama, jatuhnya satu tema terasa seperti jatuhnya seluruh pasar.

Yang tidak ikut pecah: teknologinya

Koreksi saham bukan berarti teknologi AI China berhenti. Buktinya justru datang dari pendanaan. DeepSeek dilaporkan menutup putaran pendanaan sekitar 100 miliar yuan atau sekitar US$15 miliar, putaran tunggal terbesar dalam sejarah AI China, dengan Tencent dan CATL sebagai pendukung terbesar yang kembali dari putaran sebelumnya. Dana itu dilaporkan akan dipakai untuk membangun pusat data sendiri, membeli lebih banyak chip AI, dan mengembangkan sistem berbasis agen. DeepSeek juga dilaporkan menyiapkan IPO di STAR Market, dengan CITIC Securities sebagai penasihat, dan target pencatatan pada 2027.

Penting untuk memberi label yang jujur: angka-angka pendanaan DeepSeek ini adalah angka yang DILAPORKAN media dari sumber-sumber yang mengetahui persoalan tersebut, bukan pengumuman resmi perusahaan, karena DeepSeek sendiri belum mengeluarkan pernyataan publik soal putaran itu. Laporan lain menyebut valuasi pra-putaran sekitar US$74 miliar, sementara laju pendapatan tahunan perusahaan dilaporkan sekitar US$1 miliar pada September 2026 — yang kalau dihitung kasar berarti valuasi sekitar 75 kali pendapatan, masih sangat tinggi meski di bawah kelipatan pasar sahamnya.

Di sisi lain, Huawei dilaporkan menerima fasilitas pinjaman bank domestik hingga US$2,3 miliar untuk memperkuat pasokan chip AI mandiri. Dari sisi permintaan, Alibaba melaporkan pendapatan AI cloud US$7,1 miliar pada kuartal terbarunya, naik 45 persen, dan penjualan infrastruktur AI cloud Baidu naik 50 persen. Jadi permintaan komputasi AI itu nyata, meski tidak semua proyek dan perusahaan bisa mengubahnya menjadi laba.

Data center yang mangkrak dan sikap Beijing

Satu temuan yang patut dicatat datang dari laporan MIT Technology Review yang dikutip liputan koreksi ini: banyak pusat data yang dibangun untuk ambisi AI China ternyata kurang terpakai, sebagian karena lokasinya buruk atau dibangun untuk jenis pekerjaan AI yang lebih lama. Ini sisi fisik dari gelembung yang sama dengan yang dibahas dalam perdebatan global soal pembiayaan AI: gedung dan server harus dibayar dulu, sementara pendapatannya datang belakangan, kalau datang.

Sikap Beijing ke depan juga patut diperhatikan. Pedoman Partai-Negara pada Oktober menyerukan penambahan kapasitas AI sambil menindak investasi yang boros dan meminta pertanggungjawaban pejabat atas kerugian. Artinya, Beijing kemungkinan tidak akan menalangi kerugian pasar saham, melainkan memilah pemenang dan pecundang: proyek yang terkait chip domestik, komputasi, dan pemakaian industri mendapat modal lebih murah, sementara pemegang saham, dana swasta, dan pemerintah daerah menanggung kerugiannya. Koreksi boleh jadi ditoleransi sampai gagal bayar atau PHK mengancam stabilitas, baru kemudian merger dan refinancing turun tangan.

Apa artinya buat pembaca di Indonesia

Berita ini tidak membawa produk baru atau harga Indonesia, dan artikel ini bukan saran investasi. Relevansinya bersifat tidak langsung tapi nyata. Pertama, koreksi China adalah peringatan dini soal valuasi: ketika satu tema menguasai 42 persen kapitalisasi pasar, risikonya sistemik, bukan sekadar risiko satu saham. Kedua, persaingan teknologi AS-China ikut menentukan harga dan ketersediaan chip serta layanan AI yang dipakai di Indonesia, karena pembatasan ekspor dan larangan pasokan bisa merambat ke rantai pasok global. Ketiga, bagi yang mengikuti saham teknologi global, pelajaran dari China adalah valuasi yang menuntut kesempurnaan akan menghukum kesalahan kecil dengan kejam — dan STAR50 yang masih di kisaran 100 kali laba menunjukkan koreksi ini belum tentu selesai.

Yang belum terkonfirmasi juga harus ditulis jelas: tidak ada yang tahu apakah STAR50 sudah mencapai dasar, kapan valuasi kembali ke level yang bisa dibenarkan laba, dan apakah IPO DeepSeek pada 2027 benar-benar terealisasi sesuai jadwal yang dilaporkan.

Gelembung AI China pecah dalam arti finansial, tetapi ambisinya tidak ikut pecah. Yang berubah adalah kelipatannya, bukan teknologinya: model tetap dibangun, chip tetap dipesan, dan pusat data tetap berdiri — hanya saja kini dengan harga yang dipaksa lebih jujur. Buat pembaca biasa, sikap paling masuk akal adalah membedakan keduanya: jangan mengukur masa depan AI dari grafik saham satu kuartal, dan jangan mengukur saham AI dari kecanggihan teknologinya saja.

Tanya jawab singkat

Apakah gelembung AI China sudah benar-benar pecah? Koreksi pasarnya sudah terjadi dan besar (STAR50 minus 40 persen, US$480 miliar hilang), tetapi indeksnya masih diperdagangkan di kisaran 100 kali laba, jadi valuasinya masih tinggi.

Apakah teknologi AI China ikut mati? Tidak. DeepSeek dilaporkan menggalang sekitar US$15 miliar dan permintaan AI cloud Alibaba serta Baidu masih tumbuh kuat.

Apakah ini memengaruhi harga layanan AI di Indonesia? Tidak secara langsung dan seketika, tapi rantai pasok chip dan persaingan AS-China bisa memengaruhi biaya dan ketersediaan layanan dalam jangka menengah.

Sumber: Digit, “China AI Bubble Burst explained: What caused the $480 billion stock crash” (melaporkan estimasi Goldman Sachs dan laporan Reuters) — https://www.digit.in/features/general/china-ai-bubble-burst-explained-what-caused-the-480-billion-stock-crash.html/amp/; Techweez, “China’s AI Bubble Bursts as Tech Stocks Lose $480 Billion”, 28 Oktober 2026 (melaporkan laporan Reuters dan MIT Technology Review) — https://techweez.com/2026/10/28/china-ai-bubble-burst-market-crash/; Uptodai, “Gelembung AI Pecah di China, Bursa Rugi Rp8.400 T”, 28 Oktober 2026 — https://www.uptodai.com/gadgetech/gelembung-ai-pecah-china; AIChina News / QbitAI, “DeepSeek Races Into a Fresh Funding Round at an RMB 480bn Valuation” (melaporkan Financial Times) — https://aichina.news/news/deepseek-races-into-a-fresh-funding-round-at-an-rmb-480bn-valuation-y3zryn/

Nara UlasTekno

Nara UlasTekno adalah editor di UlasTekno yang setiap hari mengikuti perkembangan gadget, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan smart home. Ia suka membedah teknologi yang rumit menjadi penjelasan yang gampang dipahami, dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di luar layar, ia gemar mencoba perangkat baru, merapikan setup smart home, dan mencatat trik-trik praktis yang benar-benar bisa dipakai pembaca.

Baca juga.

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasTekno. Artikel dan ulasan teknologi