NATO menguji apakah jaringan 5G sipil bisa dipakai untuk tugas militer: menjaga pasukan tetap terhubung saat baru tiba, tetap online saat jaringan diganggu, dan bahkan mengubah menara seluler biasa menjadi sensor pendeteksi objek. Uji itu berlangsung di Latvia pada 19–30 Oktober 2026 dalam eksperimen Digital Backbone Experimentation, atau DiBaX 2026, dan hasilnya dipaparkan pada 30 Oktober di Pangkalan Militer Ādaži, dekat Riga.
Yang paling menarik bukan satu perangkat baru, melainkan cara sistem-sistem yang tidak pernah dirancang untuk saling bicara akhirnya bisa disambungkan. Menurut komandan transformasi NATO, Laksamana Pierre Vandier, sistem targeting Maven berhasil dihubungkan ke sebuah sistem militer nasional hanya dalam hitungan jam, dengan bantuan AI agen.
Tiga uji jaringan dalam satu eksperimen
Pertama, irisan jaringan 5G. Network slicing adalah cara membagi satu jaringan fisik menjadi beberapa bagian logis yang terpisah untuk pengguna atau layanan berbeda. Dalam uji ini, penyelenggara menyiapkan irisan privat dari jaringan 5G komersial negara tuan rumah, yang dicadangkan dan diamankan untuk pemakaian militer.
Tujuannya praktis: pasukan yang baru tiba bisa langsung punya tautan komando dan data pada hari pertama, sebelum infrastruktur komunikasi mereka sendiri tiba dan terpasang. Pengumuman resmi NATO Allied Command Transformation sebelum eksperimen juga menegaskan tujuan yang sama: komando dan kontrol yang aman sejak hari pertama.
Kedua, komunikasi yang tetap jalan saat diganggu. Uji ini mencoba perpindahan otomatis antar jalur komunikasi ketika satu jalur dijamming. Jalur yang diuji meliputi radio di berbagai frekuensi, tautan satelit termasuk 5G direct-to-device, dan troposcatter, yaitu teknik memantulkan sinyal radio dari lapisan bawah atmosfer untuk menjangkau melampaui horizon.
Ketiga, menara 5G sebagai sensor pasif. Alih-alih hanya memancarkan sinyal untuk ponsel, menara 5G dipakai untuk mendeteksi objek yang bergerak di wilayah jangkauannya. Cara kerjanya memakai pantulan: gelombang radio dari base station dipantulkan oleh objek yang terbang, lalu jaringan base station bisa memperkirakan posisi objek dari pantulan itu. Keuntungannya, sistem ini tidak bergantung pada drone yang berkomunikasi dengan pilotnya. Efeknya paling kuat di kota dengan jaringan menara yang padat.
AI agen dan uji drone lintas batas
AI agen di sini bukan chatbot. Artinya software yang bisa menjalankan tugas bertahap sendiri, dalam kasus ini mencari tahu bagaimana dua sistem bertukar data. Vandier menyebut ini pertama kalinya sistem Maven bisa berbicara dengan sistem nasional, dan perbaikan itu diselesaikan dalam hitungan jam dengan AI agen.
NATO membeli versi sistem Maven Smart System dari Palantir pada 2025 untuk membantu komandan merangkum intelijen dan mempercepat keputusan. Negara pemilik sistem nasional yang dihubungkan tidak disebutkan oleh Vandier, jadi jangan menebak negara tersebut.
Uji lintas batasnya juga konkret: sebuah drone lepas landas di Lithuania, masuk ke wilayah udara Latvia, lalu dihadang oleh sistem counter-drone di sana. Uji itu bagian dari Layered Counter-UAS Initiative, yang menguji bagaimana sensor dan sistem pertahanan dari negara dan perusahaan berbeda bisa bekerja sebagai satu pertahanan berlapis. Jalur ketiga, Next Generation Targeting, menguji dukungan keputusan berbasis AI untuk memperpendek waktu dari pengumpulan informasi menjadi tindakan.
Pesertanya luas: Latvia, Lithuania, Jerman, Amerika Serikat, Kanada, Finlandia, dan sekutu lain, bersama badan NATO termasuk DIANA dan NATO Communications and Information Agency. Lebih dari 60 perusahaan teknologi ikut, antara lain Ericsson, Nokia, Thales, dan pembuat drone TEKEVER, dengan perusahaan telekom Latvia LMT sebagai integrator teknis.
Apa yang tidak boleh dibesar-besarkan
Vandier sendiri berkata beberapa uji gagal di tengah jalan, dan NATO sengaja menerima risiko itu. Ini eksperimen, bukan pengerahan operasional. Tidak ada data kinerja deteksi yang dirilis dalam sumber yang diperiksa, sehingga tidak ada dasar untuk menilai seberapa akurat, seberapa jauh, atau seberapa andal deteksi 5G itu dalam kondisi tempur nyata.
Juga belum terkonfirmasi: jadwal adopsi operasional, biaya, dampak ke pengguna sipil saat irisan militer aktif di jaringan komersial, dan apakah pendekatan yang sama akan dipakai di luar NATO atau di Indonesia. Dua hub teknologi drone Eropa di Latvia dan Belanda yang direncanakan dibuka pada 2027 adalah rencana yang diumumkan, bukan fasilitas yang sudah beroperasi.
Buat pembaca Indonesia, relevansinya ada di sisi sipilnya. Network slicing dan sensor pasif berbasis infrastruktur yang sudah ada adalah konsep yang bisa memengaruhi cara operator dan regulator memikirkan jaringan 5G ke depan — siapa yang dapat prioritas saat jaringan padat, dan data pantulan sinyal siapa yang boleh dipakai untuk apa. Tapi tidak ada bukti dalam sumber ini bahwa uji Latvia berarti Indonesia akan memakai pendekatan yang sama.
Penutup
DiBaX 2026 menunjukkan arah yang jelas: perang jaringan masa depan mungkin tidak selalu butuh infrastruktur baru yang sepenuhnya militer. Kadang ia memakai jaringan yang sudah ada, dipotong, dilindungi, dan dibaca ulang sebagai sensor.
Tantangan berikutnya, seperti diakui Vandier, adalah adopsi: mengubah eksperimen dua minggu menjadi kemampuan yang bisa diandalkan, dirawat, dan dipertanggungjawabkan. Sampai data kinerja dan aturan pemakaiannya dibuka, kisah ini layak dicatat sebagai uji yang menjanjikan — bukan sebagai bukti bahwa menara 5G sudah menjadi radar drone yang siap pakai.
Tanya jawab singkat
Apakah menara 5G sekarang menjadi radar? Belum. Ini uji sensor pasif di Latvia, bukan pengerahan radar 5G yang sudah terbukti operasional.
Apa itu network slicing? Pembagian jaringan fisik menjadi bagian logis terpisah, dalam uji ini satu irisan privat dan aman untuk pemakaian militer.
Apakah AI agen mengambil keputusan tembak sendiri? Tidak ada bukti itu dalam sumber yang diperiksa; AI agen di sini dipakai untuk menyambungkan sistem yang tidak kompatibel.
Sumber: NATO Allied Command Transformation, “The Backbone of NATO’s Digital Transformation: DiBaX26”; Defence-Blog, “NATO turns 5G towers into sensors in Baltic battlefield experiment”; SOFX, “NATO Taps Commercial 5G Networks for Secure Troop Communications in Latvia Drills”; Defence Tech News, “NATO tests agentic AI, cross-border drone defence and next-gen battlefield networks in Latvia”.