Bayangkan kamu minta asisten AI memesan ojek, lalu asisten itu yang membuka aplikasi, memilih tujuan, dan menyelesaikan pesanan tanpa kamu menyentuh apa pun. Itulah janji agen AI, program yang bisa bertindak atas nama pengguna, bukan cuma menjawab pertanyaan. Di laporan kuartal III 2026, Uber memberi kabar yang mendinginkan hype itu: perjalanan yang benar-benar dipesan lewat agen pihak ketiga ternyata baru segelintir.
CEO Uber, Dara Khosrowshahi, mengungkap angka itu dalam panggilan laporan keuangan 4 November 2026. Untuk Uber Eats, volume dari agen AI pada minggu Halloween mencapai sekitar 500 pesanan. Untuk layanan perjalanan, totalnya cuma 4 perjalanan. Ia sendiri menegaskan situasinya masih sangat awal dan traksinya sangat terbatas.
Angka 4 itu sekecil apa? Konteksnya membuat angka itu makin mencolok. Uber melaporkan 4,1 miliar perjalanan pada kuartal III 2026, naik 16 persen dibanding tahun sebelumnya. Gross bookings, yaitu total nilai pemesanan di platform, mencapai US$59,8 miliar, naik 20 persen. Pendapatan mencapai US$14,8 miliar, naik 10 persen, dengan pengguna aktif bulanan 215 juta orang.
Perlu dibaca hati-hati: The Verge membingkai angka 4 perjalanan itu sebagai kuartal lalu, sementara transkrip panggilan keuangan menaruh angka tersebut di samping volume minggu Halloween, minggu terbesar Uber dengan sekitar 320 juta perjalanan Uber dan Uber Eats. Periode pesanan makanan (sekitar 500, seminggu) dan periode perjalanan (4) tidak persis sama, jadi jangan menghitung 4 berbanding 4,1 miliar sebagai rasio adopsi yang bersih. Yang pasti, dari mulut Uber sendiri, skalanya masih sangat kecil.
Di luar angka agen, kuartal Uber sendiri kuat. Laba operasi non-GAAP naik 38 persen menjadi US$2,3 miliar, EBITDA yang disesuaikan naik 31 persen menjadi US$3,0 miliar, dan laba per saham non-GAAP naik 35 persen menjadi US$0,88. Untuk kuartal IV 2026, Uber memandu gross bookings US$63,25–65,25 miliar dan laba per saham non-GAAP US$0,95–0,99.
Apa kata Uber soal agen pihak ketiga?
Khosrowshahi tidak menutup pintu untuk agen pihak ketiga, tapi pesannya jelas: pengalaman langsung di aplikasi Uber harus tetap yang paling mudah dan menyenangkan, dari harga, waktu antar, keandalan, sampai pilihan. Uber akan bekerja sama dengan pihak ketiga, namun tidak mau bergantung pada satu pemain saja.
Di dalam aplikasinya sendiri, Uber juga membangun alat AI, misalnya Cart Assistant di Uber Eats yang menyusun daftar belanja dari foto atau teks resep. Arahnya sama: Uber ingin tetap menjadi tempat transaksi terjadi, bukan sekadar penyedia armada di balik antarmuka orang lain.
Di sisi kendaraan otonom, Uber justru bergerak lebih cepat. Perusahaan menargetkan sekitar 700 kendaraan tanpa pengemudi penuh di platformnya pada akhir 2026, dan lebih dari 2.000 pada akhir 2027, dengan peluncuran Zoox di Las Vegas pada November 2026 dan Motional yang beralih ke operasi tanpa pengemudi penuh tak lama setelah itu. Artinya, ancaman yang lebih nyata bagi Uber saat ini bukan agen AI yang memesan, melainkan siapa yang mengendalikan armada dan pelanggan di masa depan.
Kenapa ini penting buat pembaca di Indonesia?
Ini cerita pasar global Uber, bukan pengumuman untuk Indonesia. Pelajarannya tetap relevan: agen AI baru terasa berguna kalau ia bisa menyelesaikan transaksi dunia nyata, bukan cuma mencari informasi. Memesan makanan atau perjalanan melibatkan harga yang berubah, ketersediaan pengemudi dan kurir, lokasi, serta pembayaran. Kalau satu saja meleset, pengguna kembali membuka aplikasi sendiri.
Buat pengguna aplikasi ojek dan pesan-antar di Indonesia, logikanya sama. Agen AI akan menang kalau ia lebih cepat, lebih murah, dan lebih bisa diandalkan daripada membuka aplikasi langsung. Sejauh data Uber ini, belum. Buat pengembang dan pelaku bisnis, angka 4 ini juga peringatan: jangan membangun seluruh strategi di atas asumsi bahwa agen AI sudah menggantikan aplikasi, sebelum ada bukti pemakaian berulang dalam skala besar.
Apa yang masih belum jelas?
Pertama, periode pasti angka 4 perjalanan itu masih perlu dikonfirmasi dari pengungkapan resmi Uber berikutnya, karena bingkai kuartal dan bingkai minggu Halloween tidak sepenuhnya selaras dalam laporan yang beredar. Kedua, belum ada rincian agen mana yang menghasilkan pesanan tersebut, selain laporan The Verge yang menyebut agen seperti Muse dari Meta dan Dots dari OpenAI sebagai alternatif potensial terhadap aplikasi langsung. Ketiga, angka ini belum menunjukkan apakah pengguna yang mencoba sekali akan kembali memakai agen lagi.
Putusannya sederhana: hype agen AI sebagai pengganti aplikasi masih jauh di depan bukti. Uber membuktikan bisnis intinya tetap besar tanpa agen, dan agen pihak ketiga untuk sementara cuma catatan kaki, bukan bab baru.
Pembahasan agen AI bisa merujuk ke artikel OpenBot: tim agen AI di PC sendiri (OpenBot: Tim Agen AI Codex, Claude, dan Gemini di PC Sendiri).
Tanya jawab singkat
Apakah agen AI sudah menggantikan aplikasi Uber? Belum — hanya 4 perjalanan yang dipesan lewat agen pihak ketiga menurut pengungkapan Uber, dengan periode pastinya masih perlu konfirmasi.
Apakah bisnis Uber melemah? Tidak — kuartal III 2026 mencatat 4,1 miliar perjalanan, naik 16 persen, dengan pendapatan US$14,8 miliar.