IDEN
Artikel dan ulasan teknologi

IOS

iPhone Anggota Parlemen Jerman Diduga Disadap Spyware

Apple mengirim notifikasi ancaman ke pengguna iPhone di 99 negara, termasuk anggota parlemen Jerman. Ini arti peringatannya dan langkah yang harus dilakukan.

Oleh 03 NOV 2026 4 menit baca
Ilustrasi iPhone yang menampilkan peringatan keamanan.

Pemerintah Jerman memperingatkan anggota parlemen dan sejumlah tokoh publik bahwa iPhone mereka mungkin menjadi target spyware. Peringatan itu muncul setelah Apple mengirim notifikasi ancaman ke pengguna di 99 negara.

Yang perlu diluruskan sejak awal: notifikasi Apple menandakan seseorang menjadi target, bukan bukti bahwa ponselnya sudah berhasil disadap. Pemerintah Jerman sendiri belum menyebut siapa pelakunya, berapa orang yang terdampak di Jerman, atau spyware apa yang dipakai.

Apa yang terjadi di Jerman

Kantor keamanan siber federal Jerman, BSI (Bundesamt für Sicherheit in der Informationstechnik), menyatakan sudah mengetahui bahwa anggota Bundestag, parlemen Jerman, dan sejumlah tokoh lain menerima peringatan dari Apple. Menteri Digital Jerman, Karsten Wildberger, mengonfirmasi hal itu pada Minggu, 1 November 2026, dalam acara ARD Bericht aus Berlin.

Menurut surat BSI yang dikutip media Jerman, notifikasi pertama sampai ke iPhone yang terdampak pada 29 Oktober 2026. Isinya menyebut upaya penyusupan memakai “mercenary spyware”, istilah Apple untuk perangkat lunak mata-mata komersial yang mahal dan biasanya dijual ke pemerintah.

Juru bicara pemerintah Jerman, Stefan Kornelius, mengatakan pemerintah Berlin menanggapi insiden ini dengan sangat serius. Ia tidak menyebut siapa saja yang menjadi target, termasuk apakah Kanselir Friedrich Merz termasuk di dalamnya. Jumlah pastinya juga tidak diumumkan.

Apa itu notifikasi ancaman Apple

Notifikasi ancaman Apple adalah peringatan berkeyakinan tinggi yang dikirim saat Apple meyakini seseorang secara sengaja menjadi target spyware tentara bayaran. Spyware jenis ini jauh lebih canggih daripada malware biasa: ia bisa mencuri pesan, lokasi, dan data sensitif lain dari ponsel.

Serangan semacam ini sering memakai celah zero-click, yaitu serangan yang bisa berjalan tanpa korban mengklik tautan atau membuka berkas apa pun. Karena itu korban bisa saja tidak sadar sama sekali.

Apple tidak menyebut nama pelaku, negara, atau produk spyware di balik satu gelombang notifikasi. Apple juga tidak menyatakan apakah serangan terhadap satu perangkat benar-benar berhasil. Alasan inilah yang membuat BSI menyarankan siapa pun yang menerima notifikasi untuk berasumsi, sebagai langkah hati-hati, bahwa perangkatnya mungkin sudah disusupi.

Gelombang terbaru ini bukan yang pertama. Apple mengirim notifikasi serupa ke pengguna di 110 negara pada Agustus 2026, dan total sejak program ini berjalan pada 2021, Apple menyebut sudah memberi peringatan ke pengguna di lebih dari 150 negara. Seorang sineas yang berbasis di Beirut, Radwan Mortada, termasuk yang menerima notifikasi terbaru, setelah sebelumnya juga menjadi target pada 2021.

Kenapa ini penting buat pembaca di Indonesia

Kasus Jerman adalah pengingat bahwa target spyware tentara bayaran biasanya bukan pengguna biasa, melainkan orang yang punya posisi sensitif: jurnalis, aktivis, politisi, diplomat, dan pembela hak asasi. Mayoritas pengguna iPhone tidak akan pernah menerima notifikasi seperti ini.

Meski begitu, pelajarannya berlaku umum. Pertama, pembaruan sistem bukan sekadar soal fitur baru; tambalan keamanan sering menutup celah yang dipakai serangan seperti ini. Kedua, pesan yang mengaku dari Apple tapi meminta kamu mengklik tautan, memasang profil, atau membagikan kata sandi dan kode verifikasi patut dicurigai. Notifikasi asli Apple tidak pernah meminta hal-hal itu. Kalau ragu, buka sendiri situs account.apple.com dan periksa apakah ada spanduk peringatan di sana.

Soal Pegasus, nama yang sering muncul dalam pemberitaan ini, posisinya harus tepat: Pegasus buatan NSO Group adalah contoh historis dari kategori mercenary spyware, dan media pernah melaporkan bahwa badan federal Jerman, BKA, membeli akses ke Pegasus pada 2019. Namun tidak ada bukti yang mengaitkan Pegasus dengan gelombang notifikasi terbaru ini, jadi jangan menganggapnya sebagai pelaku.

Kalau kamu menerima notifikasi seperti ini

Apple menyarankan tiga langkah: perbarui perangkat ke versi terbaru, aktifkan Lockdown Mode, dan cari bantuan ahli keamanan digital, misalnya lewat Digital Security Helpline dari Access Now yang beroperasi 24 jam.

Lockdown Mode adalah mode perlindungan ekstrem di iPhone yang membatasi fitur-fitur yang sering dieksploitasi penyerang, misalnya lampiran pesan dan sebagian teknologi web. Kamu bisa mengaktifkannya lewat Pengaturan, lalu Privasi & Keamanan, lalu Lockdown Mode. Perlu diingat, mode ini memang membuat sebagian situs dan fitur bekerja berbeda, karena itulah tujuannya: memperkecil permukaan serangan.

Untuk pengguna biasa, langkah paling realistis tetap sama: pasang pembaruan iOS begitu tersedia, jangan menunda, dan jangan panik kalau tidak menerima notifikasi apa pun. Tidak menerima notifikasi bukan jaminan mutlak aman, tapi juga bukan alasan untuk menganggap semua iPhone sedang disadap.

Yang masih belum terkonfirmasi

Pelaku di balik gelombang ini belum diketahui. Produk spyware yang dipakai belum diumumkan. Apakah ada perangkat anggota parlemen Jerman yang benar-benar berhasil disusupi juga belum bisa dipastikan dari notifikasi Apple saja. Sampai ada hasil forensik atau pernyataan resmi lanjutan, semua kaitan ke satu negara atau satu vendor masih spekulasi.

Baca juga: Menu iPhone Messages Berantakan? Susun Ulang dalam 1 Menit dan HP Lemot Setelah Update? Ini Penyebabnya dan Cara Mengatasinya.

Sumber: TechCrunch, “Germany says lawmakers’ iPhones may have been hacked with spyware”, 2 November 2026; laporan BSI dan pernyataan Menteri Digital Jerman Karsten Wildberger di ARD Bericht aus Berlin, 1–2 November 2026, via TechCrunch dan pemberitaan lanjutan; Apple, halaman dukungan tentang notifikasi ancaman dan mercenary spyware.

Nara UlasTekno

Nara UlasTekno adalah editor di UlasTekno yang setiap hari mengikuti perkembangan gadget, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan smart home. Ia suka membedah teknologi yang rumit menjadi penjelasan yang gampang dipahami, dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di luar layar, ia gemar mencoba perangkat baru, merapikan setup smart home, dan mencatat trik-trik praktis yang benar-benar bisa dipakai pembaca.

Baca juga.

Tinggalkan komentar

© 2026 UlasTekno. Artikel dan ulasan teknologi